Indonesia dengan hampir 200 juta umat Islam, kalau saja bisa memiliki
pemimpin yang sangat tangguh akan menjadi luar biasa. Karena jatuh
bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut
mengikut. Kalau pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya
adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Para pengikut menduplikasi
pemimpinnya. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pimpinan
kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula umatnya. Kalau kita
lihat kondisi bangsa kita sekarang jangan pesimis, kalau kita tidak bisa
memimpin sekarang, mudah-mudahan generasi kita yang akan datang akan
melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas tinggi.
Apakah pemimpin itu lahir begitu saja? Kalau singa, sudah dilahirkan
menjadi raja hutan, tetapi manusia ada yang memiliki bakat menjadi
pemimpin, belum tentu dapat memimpin dengan baik kalau tidak disertai
dengan ilmu. Menurut analisa di Indonesia, ada jenis pemimpin ulama
pesantrenan: dibesarkan di pesantren, ilmu agamanya luas, tapi
kelemahannya kata para ahli adalah dalam bidang manajemen, sehingga
sulit untuk mengurus sesuatu yang besar. Ada juga yang birokrat: aktif
di islam, kemampuan organisasinya bagus tetapi pendalaman agamanya belum
mantap. Ada tipe mubaligh yang seperti selebritis: dia ceramahnya
bagus, diliput media massa, akhirnya jadi terkenal dimana-mana,
dijadikan idola, tetapi kadang-kadang kurang mengakar dalam menggerakkan
masyarakat.
Yang kita impikan adalah yang seperti Rasul, dia mumpuni dalam
keilmuannya, berkemampuan dalam manajemen, beliau juga punya kemampuan
membangun opini di masyarakat. Dengan dasar “Setiap diantaramu adalah
pemimpin”, Setiap kepemimpinan akan ditanya oleh Allah. Semua pemimpin
termasuk pemimpin rumah tangga tidak terkecuali.
Berikut rumus sederhana
untuk menjadi pemimpin yang dicintai. Pemimpin itu bukan yang
mengerjakan segalanya sendiri, kalau ia melakukannya sendiri akan gagal
ia memimpin. Kalau kita ingin untung sendiri akan sengsara akhirnya,
karena kita sering merasa untung jika kita untung sendiri, padahal
keuntungan sebenarnya bagi kita adalah jika kita menjadi jalan
keuntungan bagi orang lain.
Apakah rahasia utama kepemimpinan? Jawabannya adalah : kekuatan terbesar
seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan dari kecerdasannya, tapi
dari kekuatan pribadinya. Maka jika ingin menjadi pemimpin yang baik,
jangan pikirkan orang lain, pikirkan diri sendiri dulu. Tidak akan bisa
mengubah orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri.
Bangunan ini bagus, kokoh, megah karena ada pondasinya. Maka sibuk
memikirkan membangun umat, membangun masyarakat, merubah dunia akan
menjadi omong kosong kalau tidak diawali dengan diri sendiri.
Ibu yang ingin anaknya ramah, lembut, pertanyaannya adalah sudah ramah
dan lembutkah saya? Jangan menyuruh orang lain kalau belum menyuruh diri
sendiri, jangan melarang orang lain sebelum melarang diri. Orang yang
tidak cocok antara perbuatan dan perkataan akan runtuh wibawanya. Guru,
ibu, bapak atau pemimpin akan runtuh wibawanya kalu tidak cocok.
Siapapun kalau tidak serius menjadi contoh akan jatuh wibawanya.
Ada seorang yang mengajarkan ilmu di Daarut Tauhiid mengatakan bahwa
visual itu mengambil bagian 50-60 persen, sedang vokal hanya beberapa
persen sisanya adalah verbal. Kata-kata seperti ini kecil pengaruhnya,
yang berpengaruh itu adalah visual kita. Contohnya nada bicara dalam
berkata-kata. Tetapi jika tidak berkata-katapun akan jadi masalah. Jadi
kalau kita berangan-angan ingin jadi pemimpin jangan memikirkan bawahan,
pikirkan saja diri kita dulu. Merubah orang lain tanpa merubah diri
sendiri adalah mimpi Mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri
adalah omong kosong. Misalnya ketika sedang rapat kita sombong, berapa
banyak potensi yang tidak bisa keluar hanya karena pemimpinannya
sombong. Rapat yang dipimpin dengan emosional akan banyak potensi solusi
yang tidak dapat keluar karena pemimpinnya emosional. Makanya seorang
pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk
memperbaiki orang lain.
Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam menjadi contoh atau suri
tauladan, modalnya harus yakin dengan kebenaran contoh tersebut; karena
kalau kita tidak yakin atau ragu-ragu kita tidak dapat menjadi contoh.
Hanya orang yang berpengetahuan luas yakin akan ilmunya yang berhasil
menjadi contoh. Ingatlah rumus 5 S (senyum, salam sapa, santun, sopan).
Khusus untuk pelajaran senyum, ternyata jika kita makin tahu ilmu senyum
makin nikmat senyum itu. Senyum itu bisa dilihat dari mata. Senyum yang
asli, mata itu sedikit redup, karena kalau melotot tidak jadi
senyumnya. Ternyata untuk senyum itu memerlukan 14 otot yang aktif,
sedangkan untuk cemberut bisa sampai 32 otot. Akibatnya energi cemberut
itu lebih banyak daripada energi senyum. Senyum itu bisa kalau dalam
hatinya rindu membahagiakan orang lain. Kalau orang kita ajak senyum
maka akan terbawa senyum. Orang yang marah dihadapi dengan senyum insya
Allah akan reda. Semakin lengkap ilmu tentang senyum akan makin nikmat
senyum kita. Maka orang-orang yang akan menjadi contoh yang baik adalah
orang yang yakin akan kebenaran yang dicontohkannya itu. Orang yang
kurang ilmu akan sulit menjadi contoh.
Hal yang kedua adalah; orang itu dapat menjadi contoh kalau ia sudah
mengamalkannya, kalau tidak mengamalkannya tidak akan ada ruhnya. Orang
yang sibuk memberi contoh tetapi orang itu belum menikmatinya akan
menjadi susah. Nabi Muhammad SAW menyuruh sedekah, ditandai dengan
setiap orang yang meminta tidak akan ditolaknya. Sedangkan kita menyuruh
bersedekah, dalam bersedekah harus berfikir-fikir terlebih dahulu. Nabi
Muhammad SAW menyuruh untuk hidup bersahaja dengan rumahnya yang
sederhana. Apa yang diucapkan sama dengan yang diperbuat. Dalilnya
adalah; “Amat besar kemurkaan Allah apabila ada yang berkata-kata apa
yang tidak diperbuatnya”.
Hal ketiga adalah; kalau ingin menyuruh/menjadi contoh itu harus sabar,
karena sabar itu indah. Karena menyuruh orang lain itu tidak seperti
membalikkan tangan. Pemimpin yang tidak punya kesabaran tidak akan dapat
memimpin dengan baik. Makanya kalau punya anak harus sabar. Membalikkan
hati anak, bukan tugas kita tetapi Allahlah yang melakukannya. Tugas
kita adalah meberikan contoh. Kalau belum menurut sekarang, mungkin
besok. Kalau pemimpin tidak punya kesabaran tidak akan efektif.
Hal yang keempat adalah; harus ikhlas, ciri orang yang ikhlas itu adalah
jarang kecewa. Orang yang ikhlas itu dipuji/dicaci sama saja. Kalau
kita bertambah semangat ketika dipuji, dan patah semangat karena dicaci,
tidak melakukan karena tidak ada yang memuji itu namanya kurang ikhlas.
Kita hanya melakukan saja, mau dipuji atau tidak silakan saja, Allah
Maha Melihat. Makanya terus memberi contoh sambil terus berharap
diterima Allah amalan kita. Dengan kombinasi keyakinan, yang kita
contohkan menjadi bagian dari diri kita, kesabaran yang prima, dan
keikhlasan. Hati itu tidak bisa disentuh kecuali oleh hati juga. Kalau
sudah diberi contoh dan tidak ada yang mengikuti, tidak apa-apa karena
tidak akan habis pahalanya jika tidak ada yang mengikuti. Dalilnya:
“Sekecil apapun perbuatan kembali kepada kita”. Lakukan saja. Dan tidak
boleh ujub, misalnya; ketika kita sukses dalam memberi contoh, jangan
ujub, karena orang lain berubah belum tentu karena contoh kita. Ketika
kita memberi contoh di rumah, tetangga mengikuti, orang lain mengikuti,
kita tidak boleh ujub karena akan hilang pahalanya. Jangan pernah merasa
berjasa. Jangan merasa sudah merubah orang lain, karena yang
membolakbalikkan hati adalah hanya Allah. Kalau kita sudah beramal
sebaiknya dilupakan saja. Piala sebesar apapun akan kecil artinya, yang
paling berharga adalah keikhlasan. Apalah artinya jika kita medapat
piala yang akan membuat kita jadi riya.
Tingkatkan diri kita menjadi contoh mulai dari wajah yang senyum,
jadikan contoh, sapa kepada siapapun, ucapan salam. Lakukan apa yang
kita inginkan orang lain lakukan, baca Qur’an. Kalau ingin anak-anak
kurang menonton TV kita harus mencontohkan terlebih dahulu. Rahasia
kekuatan pemimpin adalah suri tauladan. Sebagai contoh, mengapa P4 gagal
diterapkan di Indonesia? Sederhanya sekali jawabannya, yaitu tidak ada
contohnya. Kita jadi bingung karena tidak ada yang paling paham tentang
P4. Rasulullah SAW adalah suri tauladan. Ketika Rasul mengajak jihad,
beliau langsung ada di barisan paling depan. Bahkan Imam Ali mengatakan
kalau pertempuran sudah berkecamuk begitu dashyat maka kami berlindung
di balik Rasul. Beliau itu bertempur paling depan, bersedekah seperti
angin dan hidup bersahaja. Ketika Rasul menyuruh bertahajud, kakinya
sampai bengkak. Ketika Rasul menyuruh shaum perutnya sampai diganjal
dengan batu. Ketika Rasul menyuruh orang berakhlak mulia, beliaulah yang
akhlaknya paling mulia. Apapun yang beliau katakana kepada umatnya,
pasti beliau lakukan. Itulah sebabnya ribuan tahun sampai kini, ribuan
kilometer jaraknya, masih tetap kuat pengaruhnya.
Kepemimpinan itu
adalah pengaruh. Siapa yang pengaruhnya paling kuat dialah yang
kepemimpinannya paling kuat.
Jika kita ingin menyelamatkan orang lain harus terlebih dahulu
menyelamatkan diri. Bagaimana mungkin menyelamatkan orang lain, kalu
diri tidak selamat. Selamatkan diri kita agar punya kemampuan
menyelamatkan orang lain. Kita tidak akan dapat menolong orang lain
kalau kitanya rusak. Rahasia lainnya, pemimpin dalam Islam itu adalah
pelayan umat. Jadi kalau diilustrasikan lewat piramida, piramidanya
seperti piramida terbalik, dan pemimpin adalah yang di bawah. Maka
siapapun yang menjadi pemimpin, dia harus mengeluarkan pengorbanan yang
paling besar dibanding dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin harus
berpikir keras, sekuat-kuatnya untuk memajukan orang yang dipimpinnya.
Ini baru pemimpin sukses. Seorang guru yang baik adalah yang membuat
murid-muridnya pintar, kalau tidak guru tersebut dianggap tidak bisa
mengajar. Orang tua yang sukses adalah orang tua yang mengeksploitir
dirinya supaya anaknya lebih baik dari dirinya. Ibu dan Bapak
masing-masing memiliki pengalaman dan masa lalu kemudian menikah, ini
akan lebih bagus tentunya. Bayangkan: dua potensi, kapasitas, ilmu dan
masa lalu bersatu menjadi anak, seharusnya anak ini menjadi brilian
tetapi kadang-kandang kita terlalu sibuk masalah kantor, masalah uang
akibatnya anak jadi gagal.
Pemimpin yang sukses adalah yang selalu berpikir menjadi manfaat yang
paling besar bagi orang lain.
1. Bagaimana orang
yang kita pimpin jadi ahli ibadah. Sebab kalau yang kita pimpin jauh
dari Allah, siapa lagi yang akan menolong. Misal kita punya toko, kita
harus berjuang agar karyawan yang ada jadi dekat dengan Allah, sebab
kalau mereka dekat dengan Allah, Allah pasti akan menolong. Seorang
suami harus berpikir sekuat-kuatnya agar istri dan anak dekat dengan
Allah, sebab bisa saja kita tiba-tiba mati. Tetapi kalau dia dekat
dengan Allah, Allahlah yang melindungi. Perlindungan ini jauh dari
jangkauan manusia. Seorang suami itu bukan pemberi rezeki, suami itu
sama-sama adalah pemakan rezeki.
Jadi ini penting sekali untuk meningkatkan ibadah, sebab pemimpin bukan
pemberi uang, pemimpin bukan penolong. Allahlah yang menolong. Kalau
yang memimpin durhaka kita yang mengikuti akan ketiban pulungnya. Maka
pemimpin yang baik harus berpikir keras bagaimana pengikutnya mendapat
ilmu agama, atau dimotivasi untuk ibadah dan sinergi dengan doa. Kalau
kita memimpin toko dengan sepuluh orang karyawan. Semuanya ahli tahajud,
shaum, baca Qur’an bayangkan apa yang akan diberikan Allah kepada
mereka. Jika kita punya pabrik 1000 orang, bikinlah sistem yang membuat
orang bisa shalat berjamaah, bisa shalat tahajud dengan tahajud call.
Buat supaya dapat baca Qur’an satu hari satu juz, bisa diharapkan
sebulan khatam Al-Qur’an. Selesai kerja keras sinergikan dengan doa di
malam hari. Doa ini adalah fasilitas senjata yang jarang kita gunakan
belakang ini. Pemimpin harus selalu memperhatikan kualitas ibadah yang
dipimpinnya. Tanpa ibadah yang bagus akhlak tidak akan bagus pula.
2. Pemimpin baik yang akan sukses adalah yang
berpikir keras bagaimana orang-orang yang dipimpinnya bisa menjadi
khalifah di dunia ini, pandai, profesional dan kerjanya bagus. Dia
korbankan dirinya supaya orang-orang disekelilingnya bertambah pintar.
Kebahagiaan kita itu adalah ketika melihat orang lain sukses. Orang yang
mengikuti kita jadi pintar karena Allah yang membuatnya pintar, bukan
karena kita. Kita beruntung karena terpilih jadi jalannya yaitu belajar
kepada kita, bisa saja Allah menggerakkannya belajar kepada orang lain,
dan orang lain yang mendapatkan pahalanya. Kita harus sekuat tenaga
membuat orang-orang di sekitar kita pintar, kalau bawahan selalu meminta
nasihat dan saran kepada kita. Berarti kita tidak akan maju. Dan kita
akan membuat mereka tergantung. Kita sebagai pemimpin harus punya banyak
waktu untuk belajar, harus banyak waktu untuk mengup-grade, memperbaiki
diri kita, maka berikan ilmu agar mereka maju.
Pimpinan harus berhasil mencari masalah, dia berhasil merumuskan
penyelesaian masalah, dan dia berhasil melakukan apa yang dia rumuskan.
Pemimpin selalu membuat orang-orang disekitarnya pintar, selalu
menemukan masalah, bisa mencari solusinya. Kita jangan sok pintar
mencari solusi sendiri. Jadi bukan pemimpin yang baik jika segalanya
dikerjakan sendirian. Akan capai nantinya, pemimpin adalah yang dapat
membuat orang bangkit rasa percaya dirinya.
3. Setiap orang yang kita pimpin dia harus punya kemampuan dakwah, pemimpin
yang baik adalah dia harus berfikir bagaimana murid-murid bisa dakwah,
anak, istri bisa dakwah. Suplailah ilmu, wawasan Dimanapun kamu berada
harus menjadi figur contoh, dakwahkan islam dengan baik. Misalkan kita
punya pabrik dengan 1000 karyawan jadinya akan ada 1000 mubaligh.
Akibatnya karena kita jadi pemimpin, orang-orang jadi dekat dengan
Allah, jadi profesional, orang-orang semuanya jadi agent of change yang
menyebarkan perubahan kepada masyarakatnya, itulah pemimpin sejati, dan
itulah yang dilakukan Rasul. Para sahabatnya semua jadi ahli ibadah yang
tangguh, jadi pemimpin yang jagoan, profesional dan menyebar menjadi
sarana kemuliaan dan martabat bagi umat, inilah pemimpin yang
dibutuhkan.
Andaikata presiden di suatu negara seperti ini menjadi suri tauladan,
setiap patah katanya, perbuatannya, ibadahnya, profesionalismenya dan ia
adalah orang yang benar-benar mengeksploitir dirinya agar rakyatnya
menjadi ahli ibadah semuanya. Andaikata sebelum rapat kabinet harus
dibacakan ayat-ayat Al-Quran, dan prasyarat jadi calon menteri adalah
harus hafal minimal lima juz. Menteri-menteri yang dipilih adalah yang
paling kuat ibadahnya, paling profesional dan figur dirinya menjadi suri
tauladan. Kehidupannya harus zuhud.
Impian ini dapat menjadi kenyataan
dengan gampang saja jika Allah menghendaki. Mulainya adalah dari diri
masing-masing.
Targetnya cuma diri dan rumah terlebih dahulu. Apa artinya kantor sukses
kalau rumah hancur. Biasanya jatuhnya pemimpin berawal dari rumahnya.
Janganlah memikirkan negara yang besar, coba pikirkan negara mini kita
dahulu yaitu tubuh kita ini. Kemudian baru mulai membenahi kerajaan
rumah kita. Bonusnya adalah “Barangsiapa yang banyak bertobat, maka
Allah akan menghilangkan segala kesedihan hati, melapangkan segala
urusan dan Allah akan memberikan rezeki dari tempat yang tidak
diduga-duga.” Ini akan menjadi penambah semangat bagi kita semua.






