“Try not to become a man of success, but rather a man of value.” -(Albert Einstein)-
Alkisah, ada seorang penabur benih yang pergi membawa sekarung benih.
Sepanjang perjalanannya, sebagian benih jatuh di pinggir jalan, setelah
beberapa waktu, datanglah seekor burung dan memakannya. Sebagian lagi
jatuh di tanah yang berbatu, yang tidak banyak tanahnya, dan benih itu
pun segera tumbuh, tetapi tidak dapat bertahan lama karena tanahnya
tipis, maka akarnya pendek, segeralah ia menjadi kering dan layu.
Sebagian lagi jatuh di semak berduri, lalu seiring dengan pertumbuhan
benih tersebut, ia terhimpit oleh semak belukar, sehingga ia tidak
berbuah. Dan sebagian lainnya jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan
subur dan banyak buahnya, dan menghasilkan banyak sekali panenan.
"Barang siapa yang menanam (benih) kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. sebaliknya, barang siapa yang menanam (benih) keburukan maka ia akan mendapat keburukan."
Benih hidup kita
Hidup manusia pun bisa dianalogikan seperti benih di atas. Seperti
benih pertama, beberapa orang hidup tanpa berhasil mengaktualisasi
potensi diri mereka atau bahkan tidak berhasil menemukannya. Mereka sama
sekali tidak menghasilkan apa-apa dalam hidupnya, bahkan sampai mereka
meninggal. Beberapa seperti benih kedua, yang mampu berkembang dengan
cepat dan pesat, namun sesungguhnya akarnya (hidupnya) sangat rapuh dan
kering. Orang-orang sepertinya adalah orang yang tidak henti-hentinya bekerja secara terus menerus, tanpa
mempedulikan kualitas kesehatan fisik, mental, ataupun sosial. Mereka
memiliki kualitas hidup yang kurang baik, mungkin sakit-sakitan,
memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah, ataupun terdapat
ketidakharmonisan di keluarganya. Secara sekilas, mereka terlihat
memiliki segalanya, tetapi sesungguhnya kehidupan mereka kering.
Beberapa seperti benih ketiga, walaupun mereka punya akar kuat dan
mampu tumbuh tinggi, tetapi mereka tidak berbuah. Orang-orang seperti
ini hanya hidup untuk dirinya sendiri, dan sesungguhnya mereka tidak
memberikan nilai yang berarti bagi orang-orang di sekitar mereka. Mereka
hanya hidup untuk ambisi pribadi sendiri, tanpa memperdulikan orang
lain. Mereka sama sekali tidak menghasilkan buah yang bisa diberikan
untuk orang lain. Dan tentunya, sedikit orang seperti benih keempat, di
mana mereka berhasil mempunyai tanah yang subur dengan mineral yang
cukup, di mana akhirnya potensi dari benih tersebut bisa sampai maksimal
dan juga menghasilkan buah bagi orang lain. Merekalah yang bisa menjaga
keseimbangan di antara seluruh aspek hidup mereka, karena selain
berbuah dengan baik, juga memiliki akar yang kuat.
Benih yang manakah kita? Manakah benih yang paling menggambarkan
hidup kita? Apakah hidup kita seperti benih yang pertama, yang hidup
dengan sia-sia tanpa menghasilkan apa pun?Ataukah seperti benih kedua,
yang dibutakan oleh harta semata tanpa mempedulikan kebahagiaan dan
kesehatan kita? Dan akhirnya kita akan merasa hidup kita sia-sia dan
kering? Ataukah seperti benih ketiga, yang hanya egois memperhatikan
diri sendiri, tetapi tidak memberikan kontribusi (nilai) apa pun bagi
sesama kita? Berbeda dengan benih, kita mempunyai kekuatan dan daya
untuk menentukan hendak berada di tanah yang manakah kita berada. Jika
pun kita telah berada di tanah yang salah, kita masih mempunyai
kesempatan & kemampuan untuk berpindah.
Tidak seperti benih yang hanya bisa pasrah, kita masih mempunyai
kaki, pikiran, dan hati untuk meninggalkan tanah yang lama dan menuju
tanah subur impian benih tersebut. Jika kita merasa belum berada di
tanah subur kita, maka jangan buang waktu lagi, carilah tanah tersebut.
Tanamkanlah akar dengan kuat, tumbuhkanlah batang pohon kita dengan
tinggi, dan yang paling penting: hasilkanlah buah yang manis untuk orang
lain. Karena hanya dengan demikianlah, benih (orang) tersebut telah
mengeluarkan potensi maksimal dalam dirinya. Benih yang berhasil
menanamkan akar yang kuat, dan telah menumbuhkan batang yang menjulang tinggi, tapi tidak menghasilkan buah apapun, sama saja dengan tidak
berguna. Ia akan ditebang dan dibuang, dan akan digantikan dengan pohon
yang lain.






